Langsung ke konten utama

Membuang stereotype



Kita mulai dari pengertian Stereotype, buat teman2 yang belum tau, Stereotype adalah cara kerja otak kita untung mengolah data, mengelompokan sesuatu dan mengasumsikan nya dengan cepat, namun perlu di ingat, stereotype tidak selalu benar, mari saya berikan contohnya, orang2 menganggap warga keturunan cina adalah pedagang, orang madura adalah juragan besi, dan orang batak jago nyanyi, apakah itu benar? saya keturunan, dan saya ga pandai berdagang, saya punya teman dekat orang madura, dia bukan juragan besi, tapi tukang sate yang ramenya bukan main (stereotype juga sih, sate madura enak), dan teman saya yang orang batak, mana bisa nyanyi, masih bagusan suara kaleng di ketok2, stereotype tidak memulu tentang manusia, atau etnis, tapi juga dengan benda mati, makhluk hidup lain atau kejadian alam, contohnya, kalau mendung, artinya mau hujan, padahal belum tentu bakalan hujan atau burung pasti bisa bernyanyi, padahal ga smua burung, bahkan ga semua burung bisa terbang, burung onta ga bisa terbang, ayam yang masih sekeluarga burung juga ga bisa terbang cuma bisa ngiri doanx!

Nah yang mau saya bahas di sini adalah, sudah saatnya kita berhenti untuk langsung menilai sesuatu karena stereotype nya, karena kalau hal itu terus terjadi dan seringnya terjadi, maka akan terjadi diskriminasi dan prasangka, sebagai contoh, saya warga keturunan, kalau jualan nasi padang bisa di anggap dagangan saya ngak halal, karena stereotype warga keturunan ya makan babi dan piara guguk, padahal ga selalu, gua aja takut sama guguk, terus orang madura bakalan di judge tukang becak kalo di pontianak ato tukang cuci baju, padahal teman saya kaya raya dari dagang sate, dan orang batak bakal di anggap preman ato tukang palak, padahal teman dekat saya yang orang batak, muka doanx sangar, kalo mau bilang orang paling care, mungkin dia, dan saya belum pernah liat dia marah.

Begitu juga dengan etos kerja, masih banyak yang di diskriminasi karena kurang pengertian terutama dari generasi sebelum kita, untung sebagian orang generasi sebelum kita yang tinggal di Indonesia Tercinta, kerja yah antara lu buka usaha jual sesuatu secara fisik, atau lu kerja sama orang, di luar itu lu ga kerja, ato cuma kerja sampingan, sebagai contoh, lu bisnis online, dengan omset 10juta/bulan dan lu cuma di rumah doanx, di depan komputer, orang bakalan mulai mendiskriminasikan, di bilang ngak kerja ada duit, di bilang males2an karena mereka tidak tau isi kantong kita, atau lebih parah lagi bisa2 lu di tuduh babi ngepet, itu kalau penghasilan kamu cukup besar, kalau penghasilan tidak memadai? maka kamu akan di cap pengangguran, walau kerja keras banting tulang dan lu tau itu buat masa depan lu, tapi karena tidak sesuai stereotype masyarakat, maka lu bakal di anggap orang yang cuma males2an di rumah dan main laptop.

Come on, sudah saatnya untuk melek, ga smua kerjaan harus di toko atau kerja dengan orang, malahan zaman sekarang kerja online punya peluang jauh lebih besar, karena target pasar kita jadi lebih luas, yang dulunya jualan buat sekomplek, sekarang jualan buat satu BUMI, dan berhenti untuk ngejudge, mungkin elu jago buka toko, elu jago jadi sales, jago nambang minyak, ato jago nilep duit negara, toh ga smua orang bisa, iya kan? jangan di pukul rata donx, ga smua anak keturunan jago dagang kok kek yang gua bahas di atas, hargai pilihan orang lain, jangan memaksakan apa yang baik buat diri lu karena mungkin itu ga baik untuk orang lain, kyk kata sohib gua, kalo lu merasa lu melakukan suatu kebaikan terhadap orang lain tapi itu orang merasa tidak senang atau terganggu, itu brarti lu ga bikin kebaikan lho, tapi lu gangguin orang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📖 Journal of DeLuna — Entry II: The Powers Beneath the Crown

If the king of Dunskar stands at the peak… then beneath him lies a web that never truly rests. There are four powers here. Not equal—but none insignificant. The Nobility came first. Old families, their names carved into the foundations of the kingdom itself. They do not rule outright, but their bloodlines built Dunskar. Land, wealth, influence—most of it flows through them. Some smile at the crown. Others measure it. Then, the Church of the Sun. They worship Solus, the ever-burning eye above the world. Their temples are quiet, but their reach is not. Faith here is not forced… yet somehow, it is everywhere. Even soldiers bow their heads before battle. I cannot tell if they serve the king… or if the king simply allows them to exist. The third is… unusual. The Guild. Not a government body, yet somehow essential. They write the guidebooks—records of monsters, ruins, forbidden paths. To adventurers, it is survival itself. To the crown? A tool, perhaps. Or a risk. Information is ...

‎📖 Journal of DeLuna — Entry I: Dunskar

‎Dunskar is not ruled by age. ‎It is ruled by presence. ‎I arrived expecting a kingdom bound by tradition—an old king, a fixed line of succession, predictable order. I was wrong. ‎ ‎The throne of Dunskar does not belong to the eldest child, nor the firstborn. It belongs to the one who can take it… without tearing the kingdom apart. ‎Every ruler must carry the blood of the previous king—this much is sacred. But blood alone is not enough. Among the royal lineage, they choose. ‎ ‎Not by simple decree, but by a form of judgment. Influence. Strength. Charisma. The ability to command not just soldiers… but belief. ‎ ‎They call it a “vote,” though it feels less like democracy and more like quiet warfare. Alliances form in whispers. Loyalty is tested long before the crown is placed. ‎ ‎A weak heir is never crowned. ‎A strong one is rarely unchallenged. ‎The current king—whoever he may be—does not simply inherit power. ‎He survives for it. ‎ ‎And perhaps that is why the people do no...

📖 Journal of DeLuna — Special Entry: The Weight of Knowing

We left the gathering behind. The colors faded first. Then the voices. Then the sense that the world was… wider than I could follow. For days, we walked. The ground changed slowly. Red gave way to something softer. Not yet green—but no longer harsh. And still—I found my attention returning to the same person. Sondre Eldar. Though no one calls him that unless they must. To most, he is simply the Caravan Master. I had watched him before. Everyone does. But not like this. Not with questions that refuse to settle. It began with a memory. A sound I could not place. Clicks. Tongue against teeth. The language of the Siltfang. I had heard it clearly. And I had heard him answer. Just as clearly. For several days, I said nothing. It felt… inappropriate to ask. As if the answer would not be given freely. Or worse—as if it would. He noticed before I spoke. “Something on your mind,” he said. Not a question. Just an observation. I asked anyway. About the language. He did not answer immed...